Susahnya Mencari Nafkah di KTT ASEAN

Langit Nusa Dua, Bali, lumayan terik pada Rabu (16/11) sore. Nyoman Asta Bawa, 37 tahun, berteduh di bawah naungan pepohonan, di atas rerumputan. Dia memandang gerbang bangunan megah di seberang tempatnya berdiri: Bali Nusa Dua Convention Center, atau biasa disingkat BNDCC.

Di gedung itu, pada Kamis (17/11) pagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membuka KTT ASEAN ke-19 dan pertemuan terkait. Para kepala negara dari 10 negara anggota ASEAN akan bertemu dan berdiskusi mengenai masalah terkini di kawasan.

Mereka juga akan kedatangan tamu para kepala negara lain yang menjadi mitra wicara ASEAN. Salah satunya adalah Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Seluruh rangkaian pertemuan akan berlangsung selama tiga hari.

Dan selama tiga hari itu pula, Nyoman Asta Bawa terancam kekurangan penghasilan.

Nyoman adalah salah seorang dari ratusan sopir taksi yang sehari-hari memangkal dan mencari nafkah di kawasan BTDC — sebuah kompleks hotel berbintang tempat BNDCC berada.

Selama KTT berlangsung, para sopir taksi akan dilarang memangkal di dalam kompleks BTDC. Mereka hanya boleh masuk kompleks — baik untuk menjemput maupun mengantar penumpang — setelah mendapat kartu pas yang harus ditebus dengan SIM. Jumlah kartu pas hanya ada 20.

Bila semua kartu pas sudah habis, taksi berikutnya yang ingin masuk harus menunggu di gerbang, hingga ada salah satu dari 20 taksi tadi meninggalkan kompleks.

“Ini demi pelayanan dan pengamanan yang maksimal,” kata Letkol CPL Sigit Karyadi dari Pasukan Pengamanan Presiden yang bertugas menangani keamanan KTT.

Tetapi bagi Nyoman, 20 taksi terlalu sedikit. “Hotel di kompleks ini ada berapa? Tadi pagi saja tanpa pembatasan, banyak penumpang menunggu taksi di Hotel Ayodya,” katanya. “Bagaimana dengan peserta KTT yang tidak membawa mobil?”

Ayah tiga anak yang telah bekerja 10 tahun sebagai sopir taksi itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicara. “Turis yang berlibur ke sini pasti terganggu. Saya tidak masalah kalau disuruh menunggu kartu pas di gerbang. Tapi apa tamu saya mau?”

Saat ini, kata Nyoman, dengan kewajiban setoran Rp 125 ribu setiap hari, dia bisa membawa pulang Rp 80-100 ribu. Tapi dia tidak punya bayangan besok seperti apa. “Saya akan coba cari penumpang ke arah Tanjung Benoa saja. Di sana banyak hotel.”

“Selama ini saya hanya tahu ASEAN itu organisasi negara-negara yang ada di Asia Tenggara. Saya nggak tahu apa yang dikerjakan mereka dan apa dampaknya ke saya,” kata Nyoman.

“Tapi kalau besok ini, dampak ASEAN terasa benar ke pekerjaan saya.”

http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/susahnya-mencari-nafkah-di-ktt-asean.html

0 komentar:

Posting Komentar

 

Serba Ada © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers